Nasihat Ringan

nasihat
Ilustrasi foto: kisahmuslim.com
Bagikan

Nasihat Ringan

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Pernah saya sampaikan materi tentang Imam Bukhari yang menelurkan karya fenomenal “Shahih Bukhari”. Sebuah kitab penting kedua setelah Al Quran Al Karim. Ini pekerjaan yang hebat luar biasa. Coba kalian bandingkan kitab buatan manusia mana di dunia ini yang dikaji orang dan dijadikan pedoman manusia seperti Shahih Bukhari. Bahkan Injil yang dibaca 2,3 milyar manusia (dengan asumsi setiap kristiani, termasuk dia yang membaca kitabnya) tidak bisa menyamai kehebatan Shahih Bukhari.

Ada ulama yang mampu menghapal matan (isi) dari Shahih Bukhari. Sebagian mampu menghapal sampai sanad. Ada lagi yang menghapal syarah (penjelasan) dari Shahih Bukhari seperti kitab fathul Bari. Ust Yazid bin Jawwas mampu menghapal Fathul Bari lengkap dengan catatan kakinya. Bahkan ketika ada revisi cetakan, beliau tau dimana perbedaannya. Demikian kata temen saya yang pernah ngaji bersamanya di tahun 90-an.

Maka ketika rame kasus “persatuan kebun binatang”, saya termasuk orang yang diam. Orang segini alimnya masa iya mau dinilai oleh saya yang hadits arbain aja gak hapal. Dalam agama itu liat kedudukan sebelum menilai seseorang biar gak sombong dan kebablasan.

Sementara Injil tak mampu dihapal sejak pertama kali dicetak hingga saat ini. Maka terlihatlah kehebatan Shahih Bukhari daripada kitab-kitab yang lain.

Kalimat Ringan nan Sederhana

Tapi taukah kalian bahwa kitab fenomenal ini lahir dari sebuah kalimat ringan nan sederhana ?

Diriwayatkan, saat berada di majelis Imam Ishaq bin Rahawaih, Bukhari mendengar beliau berkata:

“لو ان احدكم يجمع كتابا فيما صح من سنة الرسول”
“Andai ada salah seorang diantara kalian yang mau menyusun sebuah kitab yang berisi sunnah-sunnah Rasulullah yang sahih…”.

Kalimat ringan. Namun bekasnya kuat dalam diri Imam Bukhari. Dan karenanya, lahirlah darinya sebuah karya monumental yang memiliki wibawa di mata umat. (Ibnu Hajar, Hadyu Al Sari, hlm. 9).

Tak ada perintah, tak ada permintaan, hanya sebuah harapan menggunakan kata pengandaian. Namun memacu semangat seorang murid untuk mewujudkan harapan sang guru.

Kisah Al Hafidz Al Dzahabi

Ada lagi kisah Al Hafidz Al Dzahabi. Di balik kesuksesannya menjadi Imam Al Jarh wa Al Ta’dil, Hadits, dan ahli sejarah yang sulit dicari tandingannya, terselip kalimat sederhana dari lisan gurunya, Al Imam Al Barzali kala menyaksikan tulisan tangan Al Dzahabi:

ان خطك هذا يشبه خط المحدثين
“Sungguh, tulisanmu ini sangat menyerupai tulisan Ahli Hadits”.

Imam Al Dzahabi pun berkata: “Sejak saat itu, Allah Ta’ala menanamkan kecintaan dalam diriku terhadap ilmu hadits”. (Al Dzahabi, Siyar A’lam Al Nubala’, 1/35).

Masya Allah… kalimat2 ini ringan dan sederhana tapi efeknya luar biasa. Pernah Agus ngomong gini ke saya : “Ane ingat ucapan abang (dan beneran saya lupa ucapan yang mana yang dia maksud, coz banyak kali kata terucap 🤔). Kalo kita maksiat maka dampaknya akan terlihat pada keluarga, kendaraan, dan orang-orang sekeliling kita. Maka ketika istri ane membangkang, anak-anak susah diatur, ane melihat pada diri ane (muhasabah)”.

Oo… ternyata Agus ingat ucapan Sufyan bin Uyainah.

Pernah juga Eka Sukawati ngomong gini ke saya : “Engka (sebetulnya sih Eka cuma kalo beliau ngomong selalu ada dengung pada huruf “E” jadi terdengarnya Engka. Ini ciri khas yang gak bisa ditiru) ingat ucapan bang Deni waktu itu tentang bla bla bla… (dan lagi-lagi saya spechless, ini kapan saya ngomongnya 🤦‍♂️)

Intinya adalah terkadang kalimat ringan yang kita ucapkan membekas pada diri seseorang padahal kita sendiri uda lupa kalimat yang mana.

Kisah Nabi Shalih

Beberapa hari lalu saya cerita ke anak saat di mobil. Ada nabi Shalih dan pengikutnya yang mau dibunuh oleh kaum Tsamud. Awalnya 9 orang dari kaum Tsamud yang merupakan anak pejabat membunuh onta yang keluar dari batu yang merupakan mukjizat nabi Shalih. Kemudian 9 orang ini ingin membunuh nabi Shalih. Pada saat pengepungan Allah timpakan kepada mereka batu besar hingga mati. Kemudian Allah adzab kaum Tsamud akibat perilaku 9 orang ini dengan suara keras yang membuat mereka tumbang semuanya.

Langit yang dihuni oleh kaum Tsamud sama dengan langit yang dihuni oleh orang beriman pengikut nabi Shalih tapi suara keras dari langit hanya didengar oleh kaum Tsamud. Maka Corona juga seperti itu, walaupun kita tinggal di atap yang sama dengan orang-orang kafir, yang penting beriman saja agar Allah selamatkan kita dari Corona. Sholat, zikir, baca Quran jangan ditinggal.

Ceritanya singkat dan diceritakan pada kondisi yang rileks tapi saya tidak menyepelekannya. Kisah-kisah diatas jadi pembelajaran bahwa mendidik anak tidak harus berhadapan muka. Kalimat-kalimat yang kita rasa penting tapi berat belum tentu diingat oleh anak. Namun menyampaikan dalam bahasa mudah dapat diingat oleh anak. Dan semudah-mudahnya kalimat adalah ayat Al Quran. Itu sebabnya 4 kali Allah tegaskan :

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ? (Al Qamar : 17, 22, 32, 40)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: