Berharap

Berharap
Ilustrasi foto: islampos.com
Bagikan

Berharap

Oleh: Ust.Deni Prasetio, SKM

Ternyata masalah kita bukan sekedar tidak bisa merutinkan ibadah malam tapi juga keyakinan jika Allah bisa mengubah hidup. Saya tanya sebagian dari kalian bagaimana kalo dapat rezeki 30 juta pada langsung jawab tapi giliran ditanya rezeki 1 milyar mo dipake apa kudu mikir dulu. Bukan itemnya yang saya permasalahkan tapi rentang waktu jawab. Semakin panjang rentangnya manandakan kegagapan kalian akan finansial dari langit.

Gaji bulan ini sudah ada alokasinya bahkan gaji bulan depan yang belum diterima pun uda ada alokasinya. Tapi rezeki dari Allah tak pernah dialokasikan. Padahal kata Nabi ﷺ mengalokasikan rezeki dalam artian berniat termasuk amal.

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang saya akan bahas adalah kenapa kita tidak pernah berharap kepada Allah akan hal2 yang besar. Atau sudah berharap tapi kenapa harapannya ecek2 ? Kalian perhatikan bagaimana harapan Nabimu ﷺ .

”Seandainya Gunung Uhud ini diubah menjadi emas untukku, maka aku tidak suka 1 dinar pun tertinggal di sampingku lebih dari 3 hari, kecuali yang aku simpan untuk melunasi utang.” (HR Bukhari)

Berharap kepada Allah itu bukti kita yakin dengan kekuasaanNya. Nabi ﷺ yakin Allah mampu mengubah unsur tanah di Uhud menjadi unsur emas. Bedanya harapan dengan angan2 adalah harapan itu detil seperti proposal kegiatan, jelas penggunaannya, ada waktu, ada rincian biaya, dan ada peserta. Contohnya adalah hadits diatas. Permintaan Nabi ﷺ jelas satu gunung, obyeknya jelas yakni gunung Uhud bukan gunung yang lain. Pelaksanaannya jelas 3 hari, penggunaannya jelas yakni untuk sedekah dan bayar hutang. Targetnya jelas yakni bagi habis hingga tak tersisa kecuali sebesar hutang.

Dari 4 sekawan yang saya tanya hanya Arief dan Budi yang kasi rincian lumayan jelas. Cuma saya yakin kalo ditanya lebih detil Arief dan Budi belum bisa jawab, namanya juga jawaban baru kepikiran. Artinya keinginan mereka belum tertuang dalam proposal, masih sebatas ide.

Pernah lagi di jalan saya bilang ke istri nanti kalo dapet uang mo beli mobil ini sambil nunjuk CR-V Prestige putih didepan. Iya mobil Freed saya uda gak muat kalo bawa keluarga besar. Dulu anak masih kecil bisa disisipin sekarang uda 1 kursi sendiri. Jadi butuh kendaraan tambahan. Lagipula garasi masih muat shg tdk menzhalimi orang lain dgn parkir di pinggir jalan. Coz ada org yg rezekinya nambah tapi menzhalimi orang lain. Pintu pagar makan jalan krn buat garasi misalnya. Atau parkir inap kendaraan di pinggir jalan. Yg spt ini tdk bawa berkah.

Ternyata istri maunya Mazda CX-5, tampilannya emang keren. Ya uda kita beli Mazda, kata saya. Terakhir kemarin saat ke bengkel Honda, istri ke depan liat2 showroom dan merubah pilihannya pada CR-V. Sholawatin yang… kata istri sambil masuk ke dalam mobil. Saya senyum, mobil 520 juta harus dibawa ke Allah. Ini yang namanya proposal, itemnya jelas, harganya jelas, dan alasannya jelas.

Sementara angan2 hanya sebatas ngarep, kayak omongan di warung kopi. Ngarep gunung Uhud jadi emas, udah itu aja. Gak jelas emas sebesar itu mau diapain, paling banter jawabnya mau disimpen. Lha emas segunung mau disimpen di rumah type 45 gimana ceritanya ? Memang angan2 tidak realistis. Contoh angan2 dalam Al Quran keyakinan orang Yahudi dan Nasrani akan masuk surga.

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.

(Al-Baqarah: 111)

Menyembah Allah tidak pernah, malah menyekutukanNya. Beribadah kepadaNya juga tidak, malah bermaksiat trus pengen masuk surganya Allah ? Al Quran menamakan ini sebagai angan2 kosong. Paham ya bedanya. Kalo gak salah sih uda pernah saya bahas.

Perbedaan kecerdasan kita dengan Nabi ﷺ adalah Nabi ﷺ kalo ditanya emas sebesar gunung Uhud buat apa langsung kasi rincian. Sementara kita baru ditanya uang 1 milyar buat apa kudu mikir dulu bahkan ada yang mau diskusi ama istrinya ! Ini namanya gagap finansial langit. Dikasi gaji beut, beut, beut langsung habis. Dikasi rezeki dari langit mikir dulu, jadi gagap antara mimpi atau khayalan. 

Soub.. Allah itu Maha Kaya, ketimbang emas segede Uhud gak ada artinya di sisiNya apalagi uang semilyar. Kita memang fakir tapi punya Allah Yang Maha Kaya maka perbesar harapanmu kepadaNya.

Emang mungkin gunung Uhud jadi emas ? emang mungkin seorang ASN Staf Subbag Pengelolaan BMN dapet uang 1 milyar (yang belum tau ini jabatannya Arief) ? mungkin itu bahasa manusia sementara bahasa Allah adalah

قَالَ كَذَٰلِكَ

Tuhan berfirman: “Demikianlah”. (Maryam : 9)

Nabi Zakariya bertanya emang mungkin bisa punya anak maka Tuhan menjawab “Demikianlah”.

Maryam bertanya emang bisa punya anak padahal tak seorang lelakipun yang menyentuhnya maka Tuhan menjawab (melalui Jibril)

قَالَ كَذَٰلِكِ

Jibril berkata: “Demikianlah”. (Maryam : 21)

Sarah, istri Ibrahim bertanya sambil menepuk pipinya emang bisa punya anak padahal dirinya mandul maka Tuhan menjawab (melalui malaikat yang bertamu)

قَالُوا كَذَٰلِكِ

Mereka berkata: “Demikianlah (51:30)

Balik lagi pada pernyataan saya, ada masalah dalam keyakinan kita yakni membatasi kekuasaan Allah dalam memberi rezeki. Selisih rentang keyakinan kepada Allah antara kita dengan Nabi ﷺ sangat jauh. Ini baru keyakinan, belum amal. Makanya kisah Nabi Zakariya, Maryam, dan Nabi Ibrahim harus ditadaburi. Tanamkan keimanan terhadap kekuasaan Allah yang tiada terbatas.

Itu sebabnya saat Nursalam minta didoakan agar hutangnya lunas, saya balik bertanya cuma segini ? Masa iya hutang gak seberapa dibawa ke Allah. Kalian tau Rahmat Gobel kan ? Beliau mantan mendag era SBY sekaligus pembina PASKI (persatuan artis dan seniman komedi indonesia). Jadi ceritanya PASKI ngadain acara ultah butuh biaya 80 juta. Eko Patrio nyumbang 20 juta, Agum Gumelar nyumbang 20 juta, Rahmat Gobel gak nyumbang tapi ngundang panitia ke salah satu hotel. Diajak makan mewah sambil makan panitia ditanya butuh dana berapa ? Dijawab oleh panitia butuh dana 80 juta. Maka semua dana itu ditutupi oleh Rahmat Gobel.

Kalian perhatikan orang kaya gak nanya kurang berapa tapi nanya butuh berapa. Itu pertanyaan konglomerat, pertanyaan Tuhan lebih dahsyat lagi. Saat Allah turun ke langit dunia tiap malam bertanya siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut kalian kalo Sigit minta uang 30 juta kepada Allah buat beli mobil Jetstar dikasi gak ? Konglomerat aja bisa keluarin cek 80 juta masa iya minta 30 juta gak dikasi oleh Tuhannya konglomerat.

Belakangan Nursalam nambahin titipan doa mau pergi haji dan diberi kesehatan. Nah kalo sebanyak ini bolehlah saya bawa kehadapan Allah. Ingat materi lalu kalo minta kepada Allah jangan yang ecek2, uda capek2 lari jangan cuma minta air putih segelas.

Uda kadung nyebut nama nabi Ibrahim melipir sebentar pada kisah beliau. Dulu pernah saya sampaikan peristiwa2 penting yang terjadi pada malam hari. Budi pernah komen disana, waktu itu setting message masih all participants. Kalo Agus lupa dengan alasan HP hang atau Zikri gak inget dengan alasan HP hilang atau yang lain dengan alasan uda lama, masih ada Rina yang bisa dikonfirmasi. ?

Ini bapak2 giliran pekerjaan yang jadi tugasnya dia sering lupa tapi kalo bantu tugas istri dia ingat apa yang pernah dilakukan. Saya pernah tanya Agus dari semua pekerjaan rumah tangga apa aja yang dikerjakannya. Dia jawab detiiiil buanget sampe urusan nyuci udang, ayam, ikan, sayuran, cumi, ngupas bawang merah dan bawang putih. Masak air buat masak nasi, nyuci beras dan kasih air panas ke beras di rice cooker, bikin susu buat nabilah, disebut olehnya. ?

Giliran saya tanya Irma, dijawab “kadang saya nyuci suami masak. Ntar saya nidurin anak, suami yg bantu jemur. Irma masak, suami nyapu ngepel”. So simpel, gak detil kayak bapak2. Tapi giliran bapak2 ditanya isi materi jawabannya lupa. Dasar males baca !! Baca itu biar paham masuk ke memory jangka panjang. Kalo cuma baca sekali dan gak meresap ke memory itu namanya ngeliat.

Pernah Qadhi Iyadh bin Musa (w. 544 H) berkunjung ke rumah sahabatnya yang baru saja selesai menulis kitab. Qadhi Iyadh minta izin untuk membaca. Ternyata isinya sangat bagus dan menakjubkan. Qadhi Iyadh tertarik dan mohon izin meminjamnya untuk dibaca di rumah. Sahabatnya mengizinkan seraya berpesan agar Qadhi Iyadh menjaga baik2 kitab tersebut, karena hanya satu2nya dan belum diperbanyak.

Di rumah, Qadhi Iyadh menghabiskan waktunya untuk membaca buku tersebut. Malamnya, beliau lanjutkan membaca meski istrinya malam itu sudah berdandan dan merayu dirinya untuk menemani tidur.. Tapi Qadhi Iyadh terus membaca dan tidak menyambut ajakan istrinya.

Jelang subuh, Qadhi Iyadh selesai membaca semua isi kitab. Beliau pergi ke masjid untuk shalat subuh. Selesai shalat beliau lanjut mengajar. Usai mengajar baru pulang.

Sampai di rumah, Qadhi Iyadh mencium bau asap yang tidak biasa. Dia bertanya pada istrinya; engkau masak apa untuk makan kita? Istrinya memberi isyarat agar beliau langsung ke sumber asap. Ternyata…. kitab pinjaman itu dibakar habis oleh istrinya! ? Istrinya marah karena semalam dicuekin.

Qadhi Iyadh terdiam. Beliau tidak marah, justru minta maaf pada istrinya. Lalu beliau mengambil pena dan kertas, menulis ulang kitab tersebut berdasar ingatannya, dari awal sampe akhir.

Saat kitab dikembalikan, sahabatnya heran karena ada yang berbeda. Qadhi Iyadh pun menceritakan apa yang terjadi. Lalu beliau berkata: bacalah.. Lihat ada yang kurang apa tidak

Sang sahabat membaca & membuka2 kitabnya yang ditulis ulang oleh Qadhi Iyadh. Lalu sahabat tersebut berkata: Tidak.. Tidak ada yang kurang sedikit pun.. Ini sama persis dengan yang aku tulis..!

(sumber: syaikh yusuf as-susi, shafahat min akhbar al-anbiya’ wal ‘ulama’ wal awliya’ wal hukama’, hlm 51-52. Boleh copas)

Masya Allah… begitoe kelakoean laki2 djaman doeloe, dibatja langsoeng hapal. Kalo bapak2 jaman now boro2 hapal, dibaca aja uda bagus. Punya liqo’ gaya2an bikin bedah buku, ee.. bukunya baru dibaca saat nge-bedah. Ampun dah… ?

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: